RS
RuangSyahrul
Self Improvement

Cara Menjadi Tidak Terlalu Pasti pada Diri Sendiri

Kadang kita perlu buat nggak terlalu yakin sama apa yang kita pikirin. Emang nggak gampang buat mulai ngeraguin diri sendiri, tapi bukan berarti nggak bisa, kan?

Cara Menjadi Tidak Terlalu Pasti pada Diri Sendiri

Di usia 23 tahun, rasanya ini fase di mana kita lagi tinggi-tingginya punya idealisme dan merasa paling tahu soal hidup. Tapi setelah membaca Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, aku ditampar oleh satu realita: ternyata, meragukan isi kepala dan keyakinan sendiri itu adalah skill yang mahal banget.

Memang susah rasanya untuk mulai mempertanyakan diri sendiri. Tapi pelan-pelan aku sadar, hal ini sangat bisa dilatih.

Dari buku itu, cara paling masuk akal buat melatihnya adalah dengan memberikan tiga pertanyaan ini ke diri sendiri, terutama setiap kali ego kita lagi merasa "paling bener".

1. "Gimana kalau ternyata aku yang salah?"

Pertanyaan pertama ini lumayan menohok. Seringnya, kita ini jadi pengamat yang paling payah kalau disuruh menilai diri sendiri. Waktu lagi emosi, cemburu, atau kecewa, biasanya kita justru jadi orang terakhir yang sadar sama keadaan itu.

Misalnya, waktu merasa teman-teman mulai menjauh, insting pertama kita mungkin langsung menyalahkan mereka, "Oh, lingkunganku udah nggak sefrekuensi." Padahal, kalau kita mau menurunkan ego sedikit saja buat bertanya, "Jangan-jangan aku yang belakangan ini terlalu banyak ngeluh?", jawabannya mungkin beda.

Bertanya begini bukan berarti kita pasti salah. Tapi, satu-satunya cara buat menemukan letak kekeliruan kita ya dengan berani 'melubangi' rasa paling benar itu. Kalau setiap hari rasanya hidup jalan di tempat dan penuh beban, pasti ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memandang hidup.

2. "Kalau memang aku yang keliru, terus kenapa?"

Aristoteles pernah bilang kalau tanda orang terpelajar itu ada pada kemampuannya untuk menertawakan suatu pemikiran tanpa harus menerimanya. Maksudnya, kita seharusnya bisa melihat sudut pandang yang berbeda tanpa merasa prinsip kita terancam.

Contohnya, kita yakin banget kalau sukses itu ukurannya kerja di ibukota dengan gaji besar. Terus kita melihat ada teman yang memilih hidup tenang merintis usaha kecil di kampung halamannya. Alih-alih meremehkan, kita bisa kok memahami nilai kebahagiaan yang dia kejar.

Kita tidak perlu setuju dan ikut-ikutan buka usaha di kampung. Tapi dari situ, kita belajar mengevaluasi nilai yang berbeda tanpa gampang men-judge.

3. "Apakah mengakui kekeliruan ini bakal bikin masalahku jadi lebih baik?"

Nah, ini pertanyaan terakhir yang menurutku paling mengubah perspektif. Satu hal yang pasti, hidup itu pada dasarnya cuma soal memindah-mindahkan masalah.

Saat kita memutuskan buat mengakui salah dan mengganti mindset, bukan berarti kita bakal bebas dari masalah. Kita cuma sedang memilih "masalah yang lebih baik".

Coba bayangkan kalau selama ini kita terlalu perfeksionis tiap kali ada kerja tim.

  • Masalah lamanya: Kita capek sendiri, stres, dan teman satu tim merasa tidak dihargai karena tidak dipercaya.

  • Saat kita mencoba berubah: Kita sadar dan mulai belajar mendelegasikan tugas ke orang lain.

Apakah masalahnya langsung selesai? Tentu tidak. Kita akan dapat masalah baru: kita harus belajar menahan ego, menekan rasa khawatir, dan berlapang dada menerima kalau hasilnya mungkin tidak 100% sempurna sesuai standar kita.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, masalah baru ini jelas jauh lebih sehat buat mental kita (dan orang sekitar) ketimbang harus burnout sendirian gara-gara keras kepala.

Catatan Akhir

Pada akhirnya, belajar untuk tidak terlalu pasti pada diri sendiri itu bukan berarti kita jadi orang yang plin-plan. Kadang, itu cuma cara agar kita tidak terjebak dalam kebenaran versi kita sendiri, dan berani bertumbuh lewat masalah-masalah yang jauh lebih mendewasakan.

 

Comments are disabled on this post.